Memacu Pertumbuhan Ekonomi Kreatif

11-Oct-2011 oleh     Tidak ada Komentar    Posting didalam : Naskah, Tahun 2009

Judul lengkap: Memacu Pertumbuhan Ekonomi Kreatif Indonesia Melalui Penerapan Sistem Grameen Bank Bangladesh Pada Pemberian Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Oleh: Yosep Abdulhalim Wardani, Mahasiswa Institut Pertanian Bogor.

Dewasa ini Indonesia mempunyai peran yang sangat strategis dalam kegiatan perdagangan dunia. Posisi Indonesia dinilai sangat menguntungkan dengan potensi pasar yang sangat besar dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa. Selain potensi pasar yang besar, Indonesia juga menjadi ladang investasi yang sangat menjanjikan, berbagai proyek banyak dijalankan di Negara berkembang, sumberdaya alam yang melimpah dan tingkat upah tenaga kerja yang relatif murah menjadi daya pikat tersendiri untuk berinvestasi. Kondisi yang manjanjikan tersebut haruslah diimbangi dengan kebijakan pemerintah yang mendukung pengembangan kemandirian rakyat. Kemerdekaan melalui pemberdayaan sumberdaya lokal harus menjadi prioritas utama dalam pengambangan industri di Indonesia. Word Bank menuturkan bahwa hampir separuh penduduk Indonesia dikategorikan dalam keadaan miskin dengan pendapatan kurang dari $2 perhari, sehingga dalam penerapan kebijakan investasi ataupun pengembangan usaha melalui kredit kecil haruslah menyentuh sektor riil yang memberikan lapangan kerja langsung bagi rakyat. Kebijakan yang dibuat  janganlah hanya berpihak pada kaum kuat modal, justru pegembangan potensi mikro akan memberikan kontribusi yang jauh lebih besar bagi Negara. Permasalahan ini timbul dari kurangnya kualitas sumberdaya manusia dalam negri, dalam fase perkembangan ini masyarakat belum memiliki nilai tawar yang tinggi dalam industri sehingga aliran dana dari pemerintah melalui bank akan mengalir pada kaum pemodal yang memenuhi kriteria tertentu atau diistilahkan “bankable”, inilah pucuk kesalahan peraturan yang berlaku di Indonesia, jika sistem yang digunakan adalah demikian maka akan sangat kecil peluang pengusaha-pengusaha mikro untuk bersaing mendapatkan pinjaman pengembangan usaha, mayoritas pelaku industri di Indonesia adalah UMKM sehingga ini akan mematikan laju perekonomian nasional.

Kegiatan perekonomian Negara banyak disokong oleh usaha kecil, sehingga dalam pembuatan kebijakan haruslah berfokus pada pengembangan usaha tersebut, bukan malah mengalirkan dana ke pihak asing demi keuntungan segelintir orang saja. Sistem yang berlaku saat ini harus sedikit mengalami perubahan, pengambangan usaha kecil dan mikro harus menjadi prioritas utama demi kemandirian bangsa. Sistem pemodalan usaha kecil yang dinilai cocok untuk diterapkan di Indonesia adalah sistem Grameen Bank yang didirikan oleh Muhammad Yunus, peraih nobel perdamaian tahun 2006 dari Bangladesh, mengingat Indonesia dan Bangladesh memiliki banyak kesamaan khususnya permasalahan panjang dalam pegentasan kemiskinan. Sistem pemberian pinjaman modal usaha dirancang khusus bagi kaum ekonomi lemah untuk mengembangkan usaha disektor mikro. Istilah “bankable” yang selama ini menjadi kendala pengusaha kecil akan terhapuskan, sistem dirancang untuk memberikan kemudahan pada calon peminjam untuk mendapatka kredit lunak tanpa direpotkan dengan jaminan yang besar. Jika selama ini bank-bank enggan untuk memberikan pinjaman karena takut kredit yang disalurkan tidak kembali (macet) maka dengan sistem Grameen Bank ini diharapkan mampu memfasilitasi pengusaha kecil dan mikro untuk mendapatkan modal pengembangan usaha. Di Bangladesh sendiri pada tahun 2006 tercatat sebanyak 94 persen peminjam modal Grameen Bank adalah perempuan miskin dengan tingkat pengembalin kreditnya mencapai 97 persen, sebuah persentase pengembalian tertinggi bila dibandingkan dengan lembaga keuangan manapun. Hal ini semakin menegaskan bahwa pemberian kredit tidak selalu berurusan dengan jaminan, terbukti bahwa kaum miskin pun mampu mengembalikan pinjaman yang diperoleh.

Penerapan sistem Grameen Bank di Indonesia dapat dilakukan melalui lembaga yang telah ada. Sebagai contoh dengan penunjukan salah satu bank pemerintah untuk menjalankan sistem tersebut sebagai salah satu sub divisi yang concern pada pembiayaan kredik kecil dan mikro. Perbankan Indonesia dinilai telah siap dengan sistem baru yang dapat dijalankan, Muhammad Yunus pernah belajar mengenai mekanisme pemberian kredit dengan sistem kolateral tanggung renteng (jaminan oleh antar anggota kelompok) pada salah satu bank milik pemerintah, sehingga dengan asumsi bahwa pembelajaran Grameen Bank mengusung konsep perbankan dalam negri, maka dapat dikatakan bahwa sistem di Indonesia pun akan mampu menjalankan kegiatan serupa yang dilakukan Grameen Bank di Bangladesh. Konsep panyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dapat dipercayakan pada lembaga yang telah mapan seperti bank pemerintah, dengan mengadopsi sistem pinjaman Grameen Bank yang memberikan kemudahan bagi industri kecil dan mikro dalam mengakses modal. Konsep pemberdayaan masyarakat seperti inilah yang dibutuhkan masyarakat. Rakyat pun kini dituntut untuk berusaha lebih keras lagi dan berpikir kreatif dalam mengembangkan usahanya, inilah bentuk kemerdekaan secara ekonomi dimana setiap individu diberikan kesempatan yang sama dalam berusaha, dan negara menjadi fasilitator dalam mengakses sumberdaya yang dibutuhkan.

Sistem dan lembaga yang akan dibentuk juga memerlukan pembinaan secara berkelanjutan dari pemerintah, melalui perbaikan berbagai sektor pendukung kegiatan perindustrian dan perdagangan. Pengembangan yang dimaksudkan adalah pola pengembangan industri dalam negri dengan basis sektor riil yang secara langsung memberikan lapangan pekerjaaan bagi masyarakat untuk meningkatkan produk domestik bruto (PDB) Indonesia. PDB merupakan salah satu tolok ukur tingkat kesejahteraan masyarakat suatu Negara. PDB Indonesia sebagian besar disumbang dari sektor migas, jika ini terus dibiarkan maka PDB Indonesia tiap tahunya akan mengalami penurunan. Sifat produk tambang adalah non-renewable resource (sumberdaya yang tidak terbarukan) yang lambat laun akan habis karena diambil secara terus-menerus, oleh karena itu diperlukan pengembangan sektor industri lain untuk terus menyumbang PDB Negara, tentunya dengan basis usaha kecil dan mikro yang dapat memberikan banyak lapangan pekerjaan.

Indonesia yang kaya akan barang tambang tidak boleh bergantung hanya pada sektor tersebut, banyak sektor industri lain yang memiliki potensi besar untuk bisa dikembangkan, salah satunya adalah industri kreatif.  Selama ini kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB telah mencapai angka 6,4 persen, angka ini masih tergolong kecil jika kita melihat kekayaan budaya Indonesia yang sangat beragam. Ekonomi kreatif bertumpu pada 14 subsektor industri kreatif yaitu periklanan, penerbitan dan percetakan, TV dan radio, film, video dan fotgrafi, musik, seni pertunjukan, arsitektur, desain, fesyen, kerajinan, pasar barang seni, permainan interaktif, layanan computer dan piranti lunak serta penelitian dan pengembangan, jikan ditinjau dari subsektor yang mendukung tersebut maka seharusnya sektor ekonomi kreatif dapat menyumbang porsi terbesar PDB Negara. Mungkin akibat peraturan perundangan dalam negeri yang kurang mendukung industri kreatif mengakibatkan kecilnya angka tersebut. Sebagai pembanding, Belanda memiliki porsi yang tinggi terhadap ekonomi kreatif dalam menyumbang PDB-nya yaitu sekitar 70 persen, nilai yang sangat besar. Indonesia seharusnya juga mampu melakukan hal serupa, potensi budaya dan keragaman masyarakat kita merupakan modal besar yang dapat dikembangkan. Perencanaan pengembangan ekonomi kreatif harus mengacu pada permasalahan yang kini dijumpai, secara umum terdapat beberapa langkah yang harus diambil pemerintah untuk memajukan ekonomi kreatif, yang pertama adalah mengembangkan lembaga pendidikan dan pelatihan yang bisa melahirkan pelaku industri kreatif. Kreatifitas bukan kemampuan yang dibawa seseorang saat lahir, kreatifitas mampu dilatih sehingga diperlukan lembaga yang memadai untuk memfasilitasinya. Arahan kebijakan pemerintah kini sudah tepat dengan menggalakkan kembali pendidikan berbasis keterampilan melalui SMK, dan perlu dikembangkan pula pembelajaran konsep entrepreneurship  sejak dini bagi peserta didik, gabungan antara keterampilan dan jiwa kewirausahaan akan menjadikan industri kreatif sebagai lahan basah yang menjanjikan kesejahteraan.

Kebijakan kedua yang dapat diterapkan adalah mengembangkan iklim yang kondusif untuk memulai dan menjalankan industri kreatif, diperlukan lembaga yang memberikan kemudahan bagi pelaku industri kreatif untuk dapat memulai atau mengembangkan usahanya. Penerapan konsep Grameen Bank akan sangat sesuai untuk dijalankan. Mayoritas pelaku industri di Indonesia adalah UMKM, dengan kemudahan akses modal bagi pengusaha maka akan memacu pertumbuhan industri kreatif. Bahkan kaum muda yang baru akan memulai usahanya pun tidak akan mengalami banyak kesulitan dalam mengembangkan usahanya, pendidikan dan keterampilan yang memadai serta kemudahan dalam mengakses modal akan memacu tumbuhnya industri kreatif dalam negri.

Kebijakan ketiga yang dapat dilakukan pemerintah selaku pemangku kekuasaan adalah dengan memperhatikan pengusaha yang memiliki prestasi pada bidangnya dan senantiasa memberikan arahan dan motivasi untuk mengembangkan usaha pada para pelaku industri. Pemberian penghargaan merupakan bentuk kepedulian pemerintah atas sumbangan prestasi yang secara tidak langsung akan memberikan hawa positif bagi perekonomian Negara. Saat ini kita tidak hanya mencari kepuasan lahiriah (secara financial), kepuasan batin adalah lebih penting, bentuk penghargaan akan memotivasi pelaku bisnis untuk terus berkarya menciptakan hal baru yang tentunya berguana bagi banyak pihak. Sebagai contoh adalah penghargaan kepada pengusaha yang mampu memberdayakan penduduk setempat dalam kegiatan usahanya dan berbagai bentuk penghargaan lainnya. Kebijakan berikutnya diarahkan kepada upaya percepatan tumbuhnya teknologi informasi dan komunikasi yang terkait dengan pengembangan akses pasar dan inovasi dalam industri kreatif. Semua kebijakan tersebut mengarah pada pemberdayaan sumberdaya lokal untuk mengembangkan industri dengan tujuan pemerataan kesejahteran, dengan demikian masyarakat Indonesia akan bangga karena mampu menciptakan kondisi perekonomian yang sehat, dinamis dan merdeka dengan memberdayakan potensi lokal yang dimiliki..

Identitas Diri

Nama: Yosep Abdulhalim Wardani

Perguruan Tinggi: Institut Pertanian Bogor

Judul: Memacu pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia melalui penerapan sistem Grameen Bank Bangladesh pada pemberian kredit usaha rakyat (KUR)

Email: yosep_abdul@yahoo.co.id, yosep.abdul@gmail.com

Tlpn.: 081357682523

Related posts:

  1. Ekonomi Kreatif Berbasis Syariah
  2. Ekonomi Kreatif ala Ekonomi Rakyat Kecil
  3. Menuju Pemberdayaan Ekonomi Kreatif
  4. Refleksi Strategik Menuju Nasionalisme Ekonomi Kreatif
  5. Koperasi Sebagai Wadah Ekonomi Kreatif

Got anything to say? Go ahead and leave a comment!

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Artikel

Naskah 2011

  • Biaya Masuk SMA Lebih Besar dari Perguruan Tinggi?
    25 March, 2012

    Oleh: Muhammad Nur Aziz Mahasiswa, Fakultas Teknologi Informasi, Jurusan Teknologi Informasi, Universitas Kristen Satya Wacana. Di era globalisasi yang serba modern sekarang ini para pemuda-pemudi bangsa dituntut untuk mempunyai sumber daya manusia ...

  • Kertas Kosong yang Penuh Kalimat
    25 March, 2012

    Oleh: Novita Eliana, Mahasiswa Fakultas FISIP, Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Jika Anda sering bepergian dengan menggunakan jasa kereta api. Di dalam gerbong yang sesak,   Anda akan disuguhi dengan potret buram realita kehidupan di...

  • Manusia Indonesia, Siapakah Itu?
    25 March, 2012

    Oleh: Muhammad Rasyidi, Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Jurusan Aqidah dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Jika ada yang bertanya, apakah anda bangga menjadi bangsa Indonesia? Tentu saya akan jawab “ya saya bangga”....

  • Pembangunan Moral Bangsa
    24 March, 2012

    Judul lengkap: Pembangunan Moral Bangsa dengan Menerapkan Metode Pendidikan “Student Oriented”. Oleh: Aini Zahra, Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi, Jurusan Teknik Informatika, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Indonesi...

  • Generasi Pembelajar dan Nasib Indonesia Mendatang
    24 March, 2012

    Oleh: Sauqi Futaqi, Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Apakah mungkin perubahan akan terjadi di bumi Indonesia? Pertanyaan sederhana ini ternyata sukar ditemu...