Indonesia-nisasi di Ujung Negeri
Oleh: Teguh Prayogo Sudarmanto, Mahasiswa Fakultas FISIP, Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Indonesia.
“Bapak pernah menulis tentang ini di koran lokal,” kata Bapak Haji Majoni, orang tua angkat saya saat menjadi partisipan dalam Kuliah Kerja Nyata (K2N) Universitas Indonesia (UI), lewat setahun silam. Motor bebek merek Honda yang dikemudikannya masih berjalan pelan. Sambil mendengarkan di bangku belakang menuju ke Balai Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, sesekali motor Pak Majoni lebih melambat. Meliuk memilih menghindari lubang yang bertebaran di hampir seluruh badan jalan utama penghubung antar dusun.
Ironi Indonesia-nisasi Ujung Negeri
Pak Majoni tentu tidak sedang melantur memaparkan pernyataannya tersebut. Beliau sedang mencoba membuat saya turut merasakan pedihnya hidup di daerah perbatasan negeri. Ya, sebuah negeri yang masih menganggap daerah perbatasan sebagai anak tiri namun amat menggantungkan eksistensi kedaulatan padanya.
“Ini jalan baru saja dibuat tapi sudah begini. Bapak menduga, bahan material yang digunakan untuk membangun jalan ini tidak dalam takaran semestinya. Dugaan inilah yang kemudian bapak pernah tulis di koran,” lanjut Pak Majoni. Setiap melewati jembatan yang masih terbuat dari rangkaian kayu, suara gidikan kayu tak lupa selalu mengikuti. Terus terang, mendengar suara hati Pak Majoni, saya hanya bisa terdiam.
Debur ombak terdengar sayup-sayup seiring angin sepoi-sepoi melambaikan banyak nyiur yang menjadi hiasan pemandangan selama perjalanan menuju Balai Desa Temajuk. Di belakangku, sebuah bukit terlihat besar hijau menggunduk. Itulah Tanjung Dato dimana dari titik ujungnya yang kerap disebut sebagai ekor pulau Kalimantan ini ditarik garis berkelok memanjang awal batas darat wilayah antara Indonesia dan Malaysia sampai berhenti membelah pulau Sebatik di ujung timur. Tanjung Dato bersama beberapa tanjung lain seperti Tanjung Bendera masuk dalam cakupan geografis administratif Desa Temajuk yang memiliki total luas sekitar 4.750 km persegi. Namun meskipun Desa Temajuk telah berdiri sejak dekade awal 1980-an, banyak orang masih mengidentikan nama desa ini dengan sebutan Tanjung Dato. Padahal, lokasi pusat desa berada jauh di selatan Tanjung Dato.
Jumat (7/10/2011), media-media besar di Jakarta mulai menyulut api pemberitaan dengan menginformasikan dicaploknya sejumlah area di Tanjung Dato milik Indonesia oleh Malaysia. Sepengamatan saya, tulisan awal dibuat oleh Media Indonesia dengan memberitakan area yang tercaplok berada di Dusun Camar Bulan, satu dari tiga dusun yang ada di Desa Temajuk—selain Camar Bulan ada Maludin dan Sempadan—dan di kawasan hutan lindung di Tanjung Dato. Menyusul, Republika dan Kompas (10/10/2011) turut memberitakan hal serupa disertai konfirmasi dari Wakil Ketua Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, yang isinya mempertanyakan pengelolaan perbatasan oleh dinas terkait khususnya tim komite perbatasan. “Kalau masih status quo dijaga dong. Jangan sampai ada kegiatan orang lain. Kelihatannya ada kesalahan besar pada tim border committee. Dia tidak mengikuti peta-peta itu, atau ada kelalaian atau ada kesengajaan. Itu perlu kita perdalam karena tidak boleh menggadaikan (wilayah) untuk kepentingan pribadi,” tutur Hasanuddin sekaligus mengajak pihak terkait untuk mendiskusikannya di DPR.
Sekitar hampir 1.500 hektar luas tanah di Dusun Camar Bulan potensial tercaplok. Mendengar informasi salah seorang intelijen dari TNI (Tentara Nasional Indonesia) yang kebetulan datang berkunjung ke Tanjung Dato membuat kuping saya melebar. Meski saya lupa nama lengkap dari intel tersebut, saya masih ingat, salah satu alasan yang dikemukakannya mengapa sampai tanah seluas itu berusaha dicaplok Malaysia. “Ada perbedaan cara pandang dalam melihat peta perbatasan. Peta di kantor desa di sana tentang batas wilayah di Camar Bulan mungkin berbeda dengan peta yang kita lihat di kantor desa ini. Kita memangdang posisi batas terjauh itu ditarik sekian (saya lupa detil angkanya) meter dari tepi pantai Camar Bulan, dan berbeda menurut Malaysia, sekian (lupa detil) meter,” begitu terangnya.
Beruntung, saya menemukan sebuah artikel tulisan jurnalis warga bernama REP di Kompasiana.com tertanggal Senin (25/7/2011). Di situ dituliskan secara mendetil bahwa 1.499 hektar tanah di Camar Bulan dan 800 hektar di Tanjung Dato potensial diklaim Malaysia. Perbedaan cara pandang melihat peta terkuak dalam kutipan ucapan Komandan Kodim 1202 Singkawang Letnan Kolonen Teddy Surachaman di Sambas, Senin (22/3/2011), bahwa Malaysia memandang garis batas dengan Indonesia terletak 900 meter dari tepi laut di Dusun Camar Bulan, bukan 3.900 meter sebagaimana Indonesia anut selama ini. Bahkan, ketika saya cek di internet, klaim caplokan Malaysia telah jelas-jelas terukir dalam batas wilayah antara Indonesia-Malaysia di Dusun Camar Bulan buatan Google Maps.
Suatu hari menjelang malam, saya ditemani beberapa teman se-K2N UI berkunjung ke rumah salah satu tetua bernama Bapak DJufri. Mantan Kepala Sekolah SMAN 4 Paloh—satu-satunya SMA di Desa Temajuk—dan pernah berkunjung sekali ke Jakarta untuk menerima penghargaan presiden atas prestasi kepemimpinannya di sekolah tersebut itu cukup panjang berdebat dengan kami. “Kalau hutan di sekitar perbatasan Dusun Camar Bulan yang langsung berbatasan dengan Malaysia tidak kami tebangi dan tanami dengan kelapa sawit atau tanaman produktif lain, Malaysia akan mudah mengubah posisi patok batu yang sudah ada sebelumnya. Rencana keberadaan lahan perkebunan di lokasi yang dipersengketakan. Selain itu, masyarakat justru bisa makan dari hasil perkebunan, terlebih seandainya ada jalan yang menghubungkan desa ini dengan ibukota Kecamatan Paloh di Liku,” tandasnya. Saat itu, perdebatan terkait dengan pemanfaatan lahan status quo (sekitar 3 ribu meter di lebar terpanjang).
Saya akhirnya terdiam. Argumentasi saya ketika itu adalah menunggu koordinasi pemerintah dan tetap menjaga kelestarian hutan di lahan status quo sebagai hutan lindung karena hutan Kalimantan endemik. Tapi, celah argumentasi saya akhirnya terpatahkan olehnya. Pertama, menunggu langkah taktis pemerintah seperti harus membakar Gedung DPR terlebih dahulu. Kedua, minimnya data tentang keanekaragaman hayati hutan di lahan status quo membuat saya mati kutu. “Hutan Tanjung Dato ada banyak hewan dan tanaman endemik. Di sana pernah beberapa kali ditemukan Bunga Bangkai. Hutan di sana masih banyak penunggunya, kami sepakat tidak menebangnya dan menjadikannya hutan lindung,” lanjut Pak Djufri. Selain berdebat, di rumahnya yang banyak terpajang foto dirinya dengan latar belakang kota Jakarta seperti di Monumen Nasional dan tentunya saat bersama dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, saya dan kawan-kawan dijamu kopi dan berbincang banyak hal terkait beberapa program K2N UI yang akan dijalankan.
“Tapi saya masih cinta Indonesia dan nggak mau wilayah Indonesia di Camar Bulan dicaplok Malaysia seenaknya,” papar seorang bapak sambil berdiskusi santai dengan kawannya tepat di hadapan saya di malam berikutnya di warung milik Bapak Mulyadi, Kepala Desa Temajuk. Pikir saya, betapa nasionalisnya ini bapak. Esoknya, saya mendapat cerita baru dari beberapa tetua sekaligus perintis Desa Temajuk. Dinarasikan, dulu Desa Temajuk tidaklah ada sampai orang-orang di sekitar Desa Temajuk sekarang diajak untuk membuat desa baru sebagai benteng pertahanan di ujung perbatasan di dekade 1980-an. Banyak dari sesepuh ini berasal dari Kecamatan Djawai, salah satu kecamatan terdekat dari Kecamatan Paloh. Semua warga yang sekarang mendiami Desa Temajuk karenanya merupakan pendatang yang memiliki sanak-saudara di kampung asalnya. “Pantas saja, bapak semalam cinta Indonesia karena dia mungkin cinta dengan sanak keluarga di kampung asalnya. Mungkin terlalu pusing memikirkan urusan lebih jauh seandainya harus pindah kewarganegaraan karena lokasi tempat dirinya tinggal dan mencari nafkah berganti diurusi Malaysia atau menjadi pengangguran mendadak karena diusir seandainya Pemerintah Malaysia benar-benar mencaplok keseluruhan Tanjung Dato,” pikir saya.
Indonesia-nisasi ujung negeri di Tanjung Dato pun dijanjikan beragam macam fasilitas oleh Pemerintah Pusat Jakarta di masa silam. Akan ada jalan penghubung antardesa, terang jika malam hari karena teraliri listrik, serta jaringan telepon. Pasca-30 tahun, jalan penghubung antardesa memang telah ada, namun terputus di beberapa titik karena ketiadaan jembatan. Secara kreatif, warga desa mampu mengadaptasi jalur pantai menjadi jalan penghubung satu-satunya ke Liku. Saya pernah menjajal jalan pantai dengan mengendarai sepeda motor menuju tempat penangkaran penyu swadaya masyarakat berkoordinasi dengan WWF (World Wild Fund) Indonesia di Tanjung Belimbing dan segera menyimpulkan jalan pantai sangat tidak layak. Sedikit saja ceroboh, motor dapat terjungkal karena ban terperangkap kubangan pasir atau terpeleset, dan tentunya nyawa menjadi taruhannya.
Ketika malam tiba, hanya cahaya bintang dan bulan yang menerangi malam. Meski ada generator, sel surya sumbangan pemerintah, dan pembangkit listrik tenaga air rancangan mahasiswa sebuah universitas di Kalimantan Barat, tetaplah pasokan daya yang diberikan masih terlalu kecil mencukupi kebutuhan. Sinyal telepon memang ada di beberapa lokasi, itupun berasal dari jaringan provider Malaysia macam Maxis Telecom. Saya seringkali diajak Ibu Majoni, istri Pak Majoni yang tak lain juga ibu angkatku ke gerbang perbatasan. Dari situ, mak—begitu sapaan akrab saya ke beliau—meminta tolong melihatkan sudah berapa balok sinyal yang tertangkap. “Dua balok, cukuplah untuk menelpon adikmu yang sedang kuliah di Pontianak,” begitu komentarnya. Begitu tersambung, baru mengucap ‘halo’, sambungan telepon terputus. “Pasti sinyalnya jadi satu balok lagi, ayo pindah tempat,” tanggapnya.
Indonesia-nisasi
Indonesia merdeka secara defacto dan dejure sejak pukul 10.00 pagi, Jumat, 17 Agustus 1945. Ketika itu, dengan secara lantang, sesosok pria bernama Soekarno didampingi Mohammad Hatta membacakan teks menyatakan merdeka dari segala bentuk penjajahan, merepresentasikannya sebagai wakil dari ‘bangsa Indonesia’ dan menginginkan ‘pemindahan kekuasaan’,
“Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja”.
Tak ada definisi jelas siapa Indonesia dalam proklamasi tersebut. Hanya pengucapan ‘kami’ sebagai representasi dari ‘bangsa Indonesia’. Informasi tentang siapa ‘bangsa Indonesia’, tanyakan pada bagian kosong di kertas pernyataan yang menjadi sumber pidato proklamasi Soekarno saat itu di kawasan Pegangsaan Timur, Jakarta. Tujuan kemerdekaan ketika itu adalah menginginkan agar segera terjadi ‘pemindahan kekuasaan’. Tak ada definisi jelas bentuk ‘pemindahan kekuasaan’ dari siapa ke siapa. Bahkan, sebab-musabab terjadinya ‘pemindahan kekuasaan’ tak pernah terjelaskan secara eksplisit. Tapi yang pasti, sejarah yang ditulis di buku-buku sekolah beberapa dekade sejak proklamasi tersebut dikumandangkan, ditulis secara jelas dikotomi dua terminologi baru yang mungkin tidak terdengar sebelumnya, penjajah dan pahlawan. Penjajah yang selalu bermakna negatif (diburukkan) dilekatkan dengan Kerajaan Belanda dan pasukannya. Sementara di lain sisi, pahlawan bermakna positif (dimuliakan) adalah orang-orang yang melawan pasukan Belanda. Lambat laun, muncul pula definisi wilayah teritori dari definisi awang-belum-terselesaikan Indonesia, yang mencakup seluruh wilayah teritori negeri seberang lautannya Kerajaan Belanda bernama Hindia-Belanda.
Rangkaian ketidakjelasan tersebut justru menghantarkan pemikiran saya untuk mengatakan secara tegas bahwa Indonesia hadir karena sebuah proses bernama Indonesia-nisasi. Indonesia adalah sebuah ‘konstruksi imajiner akan Indonesia’ yang memang tidak memiliki batasan jelas akan bentuknya. Di lain sisi, Indonesia-nisasi-lah yang selalu membuat Indonesia menjadi jelas. Lewat Indonesia-nisasi, tergambar visi-misi dan langkah taktis mewujudkan ‘konstruksi imajiner akan Indonesia’. Hal ini terjadi lantaran Indonesia-nisasi merupakan wadah dialektika bagi para pemikir ‘konstruksi imajiner akan Indonesia’ menuangkan dan berbagi ide mereka. Dialog dalam Indonesia-nisasi inilah yang selalu mereproduksi wacana ‘konstruksi imajiner akan Indonesia’ sesuai dengan keinginan para pemikirnya. Implikasi langsung dari Indonesia-nisasi, Indonesia menjadi terlembagatisasi dan berubah menjadi institusi budaya.
Dalam mereproduksi wacana ‘konstruksi imajiner akan Indonesia’, ide yang dituangkan akan terus berubah. ‘Konstruksi imajiner akan Indonesia’ bagi setiap pemikirnya berbeda-beda. Dalam memainkan dialektika memproduksi wacana tersebut, terjadi pula relasi kekuasaan di antara masing-masing pemikir. Dengan adanya relasi kekuasaan inilah, akan terjadi tarik-menarik pengaruh yang menghantarkan pemaknaan ‘konstruksi imajiner akan Indonesia’ ke lokasi terdekat dengan ruang privat dari pemikir sendiri. Setiap pemikir yang sedang berdialog dengan ‘konstruksi imajiner akan Indonesia’ dapat dikatakan sedang mengaplikasikan Indonesia-nisasi dalam kehidupan sehari-harinya. Di poin terakhir pengaplikasian dalam kehidupan sehari-hari oleh seorang pemikir ‘konstruksi imajiner akan Indonesia’ inilah, Indonesia-nisasi akan menentukan hidup mati daripada keberadaan ‘konstruksi imajiner akan Indonesia’ itu sendiri.
Indonesia-nisasi di Tanjung Dato
Di tahun 2010, Desa Temajuk memang berlokasi di wilayah teritori Indonesia. Teritori tersebut memiliki batas, bersebelahan dengan Kampung Serabang, negara bagian Serawak, Malaysia. Batasnya tidak tergambar jelas lewat pagar berduri, namun melalui patok batu yang dipasang dalam jarak-jarak tertentu dan sebuah gerbang perbatasan bertuliskan ‘Selamat Datang di Republik Indonesia’ apabila dikunjungi dari Kampung Serabang. Tak ada pos penjagaan ketat di kedua wilayah, hanya pembekalan identitas dan pencatatan sipil apabila warga masing-masing desa saling melintas melewati perbatasan tersebut.
Satu catatan penting yang saya temukan, masyarakat kedua desa memiliki kesalingtergantungan kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya. Keluarga angkat saya misalnya, membeli beragam kebutuhan dasar seperti gas, beras, minyak goreng, gula pasir dari Kampung Serabang, sekaligus menjual beragam hasil tangkapan laut dan biji lada ke kampung itu. Mata uang Rupiah dan Ringgit sama-sama diterima sebagai alat tukar dan alat simpan. Bahkan, masyarakat kedua desa ini juga saling mengakrabkan diri sebagai kerabat dekat dan tak jarang terjadi pernikahan antar kedua desa.
Karenanya, menurut saya, Indonesia-nisasi di Tanjung Dato seharusnya sudah tidak lagi rentan dengan polemik garis batas antara Indonesia dan Malaysia. Garis batas bagi warga Desa Temajuk tidak memberikan signifikansi penting terhadap kehidupan mereka. Toh, dengan adanya wilayah status quo pun, beberapa warga setempat merencanakan secara swadaya mengelola wilayah tersebut dengan menanaminya tumbuhan kelapa sawit. Garis batas yang ada sekarang pun dapat dilalui dengan mudahnya dan akan semakin mudah apabila sistem administrasi pencatatan sipil semakin baik di kedua negara.
Masyarakat Desa Temajuk justru membutuhkan Indonesia-nisasi yang lebih menunjang kehidupan mereka secara pribadi. Infrastruktur jalan, listrik, dan sinyal telekomunikasi lebih dibutuhkan sebagai jawaban bentuk Indonesia-nisasi riil di Tanjung Dato. Tentu, untuk mewujudkannya, masyarakat Desa Temajuk harus bisa menjadikan diri mereka sendiri sebagai stakeholder, bukan hanya sekadar sebagai shareholder. Ini artinya, mereka menjadi telah menjadi Indonesia dengan mengadakan Indonesia-nisasi di Tanjung Dato.
Biodata:
Judul naskah esai: Indonesia-nisasi di Ujung Negeri
Nama penulis: Teguh Prayogo Sudarmanto
Tempat dan tanggal lahir: Semarang, 28 Juni 1989
Nama perguruan tinggi: Universitas Indonesia
Nama fakultas, jurusan: FISIP, Ilmu Hubungan Internasional
Domisili: Gang Salak Nomor 30 Jalan Margonda Kelurahan Pondok Cina Kecamatan Beji Kota Depok Jawa Barat 16424
Alamat email: pengelana.kecil@gmail.com
Nomor ponsel: 085697147196
Related posts:
Got anything to say? Go ahead and leave a comment!
Artikel
- Menulis adalah Tindakan Komunal
17 May, 2012 - Yang Biasa dan yang Luar Biasa
3 May, 2012 - Konsentrasi Besar
26 April, 2012 - Sebutkan dengan Spesifik
19 April, 2012 - Jangan Katakan, tapi Tunjukan
12 April, 2012
Naskah 2011
- Biaya Masuk SMA Lebih Besar dari Perguruan Tinggi?
25 March, 2012Oleh: Muhammad Nur Aziz Mahasiswa, Fakultas Teknologi Informasi, Jurusan Teknologi Informasi, Universitas Kristen Satya Wacana. Di era globalisasi yang serba modern sekarang ini para pemuda-pemudi bangsa dituntut untuk mempunyai sumber daya manusia ...
- Kertas Kosong yang Penuh Kalimat
25 March, 2012Oleh: Novita Eliana, Mahasiswa Fakultas FISIP, Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Jika Anda sering bepergian dengan menggunakan jasa kereta api. Di dalam gerbong yang sesak, Anda akan disuguhi dengan potret buram realita kehidupan di...
- Manusia Indonesia, Siapakah Itu?
25 March, 2012Oleh: Muhammad Rasyidi, Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Jurusan Aqidah dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Jika ada yang bertanya, apakah anda bangga menjadi bangsa Indonesia? Tentu saya akan jawab “ya saya bangga”....
- Pembangunan Moral Bangsa
24 March, 2012Judul lengkap: Pembangunan Moral Bangsa dengan Menerapkan Metode Pendidikan “Student Oriented”. Oleh: Aini Zahra, Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi, Jurusan Teknik Informatika, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Indonesi...
- Generasi Pembelajar dan Nasib Indonesia Mendatang
24 March, 2012Oleh: Sauqi Futaqi, Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Apakah mungkin perubahan akan terjadi di bumi Indonesia? Pertanyaan sederhana ini ternyata sukar ditemu...


Posting didalam :