Bertani Memelihara Keindonesiaan Kami
Oleh: Maula Paramitha Wulandaru, Mahasiswa Fakultas Pertanian, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
“Tjamkan, sekali lagi tjamkan, kalau kita tidak “tjampakkan” soal makanan rakjat ini setjara besar-besaran, setjara radikal dan revolusioner,kita akan mengalami malapetaka!”[1]
Sepenggal Pengantar yang Biasa
Bung Karno, Presiden pertama Republik Indonesia, mengucapkan kalimat diatas pada tahun 1952. Gaya berpidatonya yang menggugah membuat ucapannya berenergi bagaikan mantra. Mantra itu tetap hidup bersahut-sahutan di lorong globalisasi yang gegap gempita antar periode kepemimpinan. Tidak bisa dipungkiri bahwa pangan memiliki peran yang sangat vital bagi Negara karena fungsinya sebagai pemenuh kebutuhan paling mendasar bagi rakyat. Negara harus betul-betul memperhatikan ketersediaan pangan bagi rakyat yang selama ini dilakukan dengan cara mengatur kegiatan pertanian baik secara teknis seperti inovasi dalam berbudidaya maupun non teknis yaitu kebijakan. Setiap periode kepemimpinan memahami kepentingan pangan ini dan mengupayakannya dengan cara yang berbeda-beda.
Sektor pertanian, dan mungkin juga sektor lain, dari semua periode kepemimpinan sepertinya masa orde barulah yang paling gencar mendapat sorotan. Hal ini bukan saja karena masa kepemimpinannya yang paling lama. Tetapi juga pada masa ini pernah diberlakukan sepaket kebijakan yang, mengacu pada pidato Bung Karno, radikal dan revolusioner dalam rangka menghasilkan pangan sebesar-besarnya. Kebijakan luar biasa itu dikenal sebagai Revolusi Hijau yang meliputi dua hal yaitu intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian. Keduanya diterjemahkan secara mendetail melalui paket-paket program yang siap dipenetrasikan ke para petani. Semua upaya itu hanya memiliki satu tujuan, menggenjot produksi beras besar-besaran. Tercapailah tujuan itu kala Indonesia pada tahun 1984 mencapai swasembada beras dengan produksi sekitar 25,8 juta ton beras naik dua kali lipat lebih dari produksi beras nasional pada tahun 1969 yang hanya sebesar 12,2 juta ton. Indonesia mengubah dirinya dari negara pengimpor beras terbesar di dunia menjadi negara pengekspor beras.
Kritik terhadap Revolusi Hijau telah menjadi rahasia umum. Kita bersepakat bahwa degradasi lahan dan aspek sosial ekonomi petani beserta seluruh masalah turunanannya merupakan akibat dari cara bertani yang diperkenalkan saat itu, yang masih bertahan hingga sekarang. Namun diantara puing-puing itu terdapat esensi yang perlu digarisbawahi yaitu, keran modernitas telah dibuka lebar-lebar ketika pupuk dan pestisida kimia serta benih unggul hasil teknologi tinggi digunakan. Meskipun batasan modern dan tidak modern sungguh sumir adanya namun produksi pupuk, benih dan pestisida melalui teknologi tinggi di pabrik-pabrik merupakan suatu tanda bahwa pertanian tak luput dari jeratan tentakel kapitalisme yang pada akhirnya menggiring pada perilaku komersialistik.
Modernitas dengan segala kemudahan teknologi yang ditawarkan melalui sistem kapitalistik pada akhirnya mematikan kreativitas dan insting belajar petani. Semua permasalahan teknis pertanian diselesaikan dengan pupuk, benih dan pestisida buatan pabrik. Ketika satu merk sudah tidak mempan lagi menyelesaikan masalah di lahan, misalnya serangan virus, maka dicarilah merk lain yang lebih mahal dan ampuh. Petani, ditengah himpitan kebutuhan ekonominya yang diakibatkan banyak hal, dalam menjalankan usaha tani hanya memikirkan pupuk, benih dan pestisida apa yang akan dipakai agar produksi lahannya bisa maksimal.
Pada titik ini, pertanian yang seharusnya menjadi peradaban tidak lagi tercapai. Laiknya peradaban, pertanian pada hakikatnya bisa menjadi sumber nilai-nilai budaya luhur bagi manusianya untuk berperilaku sebagai individu dan bagian dari masyarakat. Pada titik ini pula keindonesiaan kita sebenarnya terkikis. Kekayaan alam dikaruniakan kepada kita sepaket dengan kesadaran kita untuk merawatnya, menghematnya. Jika kini kita tidak seperti itu maka ada yang terputus dalam perjalanan kita sebagai bangsa.
Mengurai Sesak yang Membebat
Pandangan umum selama ini menganggap bahwa kebutuhan pangan yang semakin membengkak hanya bisa diatasi dengan cara meningkatkan produksi secara besar-besaran, terutama beras. Dalam konteks ini penggunaan faktor produksi ekternal berupa pupuk, pestisida dan benih pabrikan, yang dalam paragraf sebelumnya dikatakan sebagai buah modernitas, adalah suatu keniscayaan. Padahal peningkatan produksi yang diterjemahkan melalui program-program kongkrit seperti penggunaan benih unggulan yang disediakan pemerintah, pupuk dengan dosis tertentu, pengendalian hama dengan pestisida namun terpadu, sistem berbudidaya termutakhir dan sebagainya saat diterapkan di lapangan meninggalkan banyak jejak. Tak hanya peningkatan produksi, penerapannya yang terus-menerus juga telah mengubah tatanan sosial, sistem ekologis alam, dan sendi-sendi ekonomi rumah tangga petani. Dan diatas semua itu upaya menggenjot produksi di tengah-tengah suasana kapitalistik telah menggerus pelan-pelan mentalitas dan kecerdasan petani sebagai bagian dari kekayaan local wisdom bangsa indonesia.
Mendedah satu per satu jejak langkah ambisius nan logis peningkatan produktivitas adalah sebagai berikut. Pertama, tatanan sosial yang berubah adalah gotong royong. Kebanyakan petani di desa-desa sudah banyak yang meninggalkan sistem sosial ini. Kita semakin jarang menemukan sekelompok petani melakukan penanaman dan pengelolaan tanaman secara bersama-sama. Hal ini karena petani menganggap semua masalah pertanian selesai diatasi dengan pestisida dan pupuk kimia. Benih unggul pun dengan mudah diperoleh di toko-toko saprotan. Petani menjadi individualis, tenaga dan waktu mereka hanya dicurahkan untuk lahannya saja guna mengejar produktivitas maksimum. Padahal kebersamaan yang terdapat dalam gotong royong berupa kegiatan bersama dalam kelompok di dalam maupun di luar ruangan sangat penting sebagai ruang publik bagi petani untuk berdialog. Melalui dialog petani bisa saling belajar karena akan terjadi trasnfer pengetahuan. Dialog ini menjadi kekuatan mereka dalam bergerak karena dengan berdialog petani memiliki kesadaran bahkan kecerdasan kolektif sebagai modal sosial untuk mengatasi permasalahan yang muncul.
Senada dengan pancasila yang telah mencapai konsensus untuk digunakan sebagai dasar negara, namun perlu terus-menerus dihidupi, apabila diperas intinya menurut Bung Karno adalah semanagat gotong royong. Yah, bangsa ini sebenarnya adalah bangsa gotong royong yang kemudian disiratkan dalam Pancasila. Seharusnya semangat ini menjadi ruh pada gerombolan manusia-manusia Indonesia dimana saja dalam setiap ikhtiarnya.
Kedua, sistem ekologis alam akan terganggu dengan penggunaan bahan-bahan kimia yang melebihi ambang batas toleransi lingkungan. Zat kimia yang menjadi racun bagi lingkungan memiliki dampak sistemik yang bermula dari putusnya rantai makanan. Mikroorganisme tanah yang berguna dalam daur penguraian bahan organik akan mati. Hewan-hewan kecil sebagai prodator alami bagi hama tanaman ikut musnah. Jadilah penurunan kesuburan tanah dan mewabahnya hama penyakit kerap menjadi permasalahan utama para petani. Belum lagi ancaman kesehatan yang mengintai mereka sepanjang waktu dan tahu-tahu pada saatnya muncul sebagi penyakit kronis semacam kanker, tumor atau gejala abnormal lainnya.
Ketiga, perekonomian rumah tangga petani sangat rentan. Di Indonesia, profesi petani merupakan sektor berpenghasilan terendah, berkisar 438.149/bulan dibandingkan upah buruh bangunan sebesar 734.070/bulan. BPS tahun 2010, dimana jumlah penduduk miskin di pedesaan di seluruh indonesia mencapai 19,93 juta jiwa. Kemiskinan keluarga petani di desa-desa ini karena arus komersialisasi yang sangat deras mulai dari pengadaan faktor produksi hingga pasca panen. Bagaimana tidak, petani harus membeli benih, pupuk dan pestisida sebagai modal utama melakukan usaha tani yang disediakan industri-industri besar. Sering petani mengeluh bahwa uang yang dikeluarkan untuk membeli modal utama bertani itu semakin membesar meskipun luas lahan yang diusahakan tetap. Ketika panen pun, demi mengembalikan modal kebanyakan petani menjual seluruh hasil panennya. Mekanisme penjualan ini sepenuhnya diatur pasar yang dikuasai tengkulak. Dengan perbedaan akses yang dimiliki sebagian besar keuntungan masuk ke kantong tengkulak. Keluarga petani kemudian membeli lagi hasil panennya secara eceran untuk makan sehari-hari dengan harga yang jauh lebih mahal. Mereka akan menekan konsumsi rumah tangga untuk menghemat pengeluaran. Pembagian raskin (beras miskin) oleh pemerintah terkadang menjadi angin sejuk. Namun realitas ini adalah ironi yang seharusnya bisa dihindari.
Keempat, petani menjadi manusia yang memundur. Bertani adalah proses budaya yang mengandung nilai-nilai kearifan dan menjadi kekayaan bangsa Indonesia hasil berelasi secara turun-temurun dengan alam. Sebagai relasi berarti manusia petani tidak hanya mengambil berkat dari alam tetapi juga mengembalikannya. Petani menempatkan alam bukan sebagai benda mati tetapi hidup dan melakukan komunikasi dengannya. Secara kasat mata ini dapat dipahami melalui pelaksanaan upacara-upacara adat setempat misalnya sedekah bumi, biyukukung[2], atau sistem subak[3]. Secara tidak kasat mata nilai-nilai filosofis perayaan itu meresap dan menjadi ruh tindakan mereka dalam bertani dan bahkan diluar itu. Inilah yang paling penting, manusia petani pada akhirnya memiliki keluhuran budi menyelaraskan diri dan lestari bersama alam yang menghidupi. Pencapaian inilah yang saya anggap sebagai titik tertinggi pribadi bangsa Indonesia yang berbudi luhur.
Kondisi ini tidak bisa tercapai ketika petani terjerumus dalam sistem perekonomian mikro yang tidak memihaknya serta pembebanan pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat Negara di pundak mereka. Pribadi mereka terkikis berubah menjadi robot-robot produksi di tanah mereka sendiri. Mereka semakin menderita dan seperti yang dikatakann Karl Marx, teralienasi dari pekerjaan dan lingkungannya. Mereka menjadi inferior dan menganggap ilmu gethok tular[4] pertanian dari nenek moyang mereka pantas diganti. Mereka menjadi haus inovasi modern buah ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat terus-menerus meningkatkan produksi.
Menengok Sepotong Realitas
Pemaparan di atas bisa jadi berlebihan. Namun itulah kenyataannya. Memanfaatkan masa Kerja Lapangan saya sebagai pendamping kelompok perempuan di Desa Sumber Magelang untuk mengelola lahan pekarangan, saya memperoleh gambaran riil. Rata-rata keluarga petani menggunakan saprotan buatan pabrik. Pengeluaran untuk ini semakin membengkak karena selain kebutuhan dosis yang selalu bertambah pada musim tanam berikutnya juga akibat harga saprotan di pasaran selalu merangkak naik.
Pasar komoditas pertanian yang mereka usahakan yaitu sayuran dan beras tidak selalu memberi harga tinggi. Mereka bahkan sering merugi. Bu Bayan Dusun Ngenthak, salah satu Dusun di Desa Sumber, bertutur panen mentimun pertama setelah Erupsi Merapi dihargai tengkulak Rp. 50-100 per kilogram. Padahal kita tahu di pasar harga metimun relatif stabil. Mentimun Bu Bayan pun dibiarkan membusuk di lahan, tidak jadi dijual. Lain lagi cerita Mbok Sabar, menjual Tomat ke tengkulak dihargai Rp. 500 per kilogram. Saat dia masih berada disitu datanglah pembeli Tomat dan oleh tengkulak Tomat yang dibeli dari Mbok Sabar seharga Rp. 500 per kilogram dijualnya kepada pembeli Rp. 1500 per kilogram. Sakit hati rasanya, tapi bisa apa?.
Di Dusun sebelahnya, bernama Tutup Duwur, ada seorang Mbah yang meninggal akibat kanker payudara. Usia Mbah Keni, begitu ia dikenal, memang sudah uzur sekitar 70-an tahun. Namun penyakit yang mengantar kepergiannya kurang lazim di desa-desa. Kira-kira apa pemicu munculnya kanker tersebut?. Jika di lingkungannya, dan bahkan Mbah Keni sendiri, sangat akrab dengan pestisida dan pupuk kimia saat bertani apakah kedua saprotan ini menjadi pantas dicurigai?, mengingat penelitian yang memaparkan bahaya zat-zat kimia bagi kesehatan sudah menjadi rahasia umum.
Di Dusun Diwak, tak jauh dari Dusun Tutup Duwur, salah satu tokoh masyarakatnya, Pawit Santoso, mengungkapkan jika pertanian seperti sekarang ini tidak punya masa depan. Dia sering menggunakan momen kumpulan[5] bapak-bapak se-dusun, yang masih terpelihara, untuk membahas kegiatan pertanian. Mereka menyadari cara-cara bertani macam yang dilakukan mayoritas petani saat ini menghadapkan mereka pada kesulitan-kesulitan yang tak berkesudahan. Dan mereka harus menghadapinya sendirian setelah memberi makan ratusan ribu mulut yang tak pernah kenyang. Kesadaran mereka akan situasi sulit itu memunculkan pencarian model bertani yang lebih baik.
Sepotong realitas ini menurut saya sungguh mewakili petani-petani serupa yang tersebar di desa-desa lain. Kebutuhan pangan rakyat Negara ini seolah-olah dibebankan pada mereka. Demi mewujudkan itu, para petani digiring tanpa sadar pada kemunduran secara sistemik selama empat dekade terakhir. Tidak puas sampai disitu, korporasi besar pun turut diikutsertakan dalam upaya pengadaan pangan besar-besaran melalui Food Estate yang entah apa saja akibatnya nanti.
Kami Bisa Memulainya
Lagi-lagi saya mengutip ucapan Bung Karno, ”… Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita belum selesai! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat[6].” Ucapan ini begitu menyentuh dan menggerakan. Namun sayangnya alternatif solusi yang saya tawarkan tidak spektakuler.
Konsepsi kritik terhadap model pertanian masa kini sangat beragam dilengkapi dengan rancangan-rancangan model pertanian masa depan yang visioner. Namun dalam bayangan saya pertanian di masa depan harus bercermin pada model pertanian di masa lalu saat manusia petani berelasi secara simultan dengan alam. Bukan berarti ini mistik. Pencapaian ini malah ilmiah meskipun tidak berasal dari ruang kelas kuliah. Relasi manusia dengan alam sekitar merupakan proses ngangsu kawruh[7] mengenai nilai-nilai kebajikan sehingga kita bisa menjadi bijak. Bukankah itu esensi pencarian ilmu yang telah kita lakukan bertahun-tahun belakangan ini?. Capaian-capaian spiritualitas ilmiah yang ramah lingkungan di masa lalu inilah yang perlu digali lagi untuk dikembalikan ke tengah-tengah masyarakat petani. Namun saya sadar berbicara keluhuran budi bertani di masa lalu sama sekali tidak menarik ditengah keberlimpahan yang mampu diberikan modernitas. Kini jarang orang percaya bagaimana Kidung Rumeksa Ing Wengi[8] yang dilafalkan dengan kesungguhan hati dapat menolak serangan hama penyakit. Kesadaran ini perlu dibagi dengan cara-cara praktis yang lebih mudah diterima.
Saya dan beberapa kawan memulai aktivitas pemberdayaan guna menularkan apa yang kami ketahui dan sadari langsung ke petani di desa-desa. Menurut kami bertani adalah sebuah ritual olah rasa dan pikiran dan keduanya merupakan sesuatu yang alamiah bagi manusia. Secara sederhana konsep itu diterjemahkan melalui cara-cara bertani secara ramah lingkungan yang memiliki aspek teknis dan non teknis.
Permasalahan teknis budidaya diatasi dengan pelatihan pembuatan pupuk cair dan padat organik, pestisida alami, bioaktivator dan silase (pakan ternak tahan lama). Pemberian benih padi lokal, buah berjejaring dengan aktivis pertanian yang mengoleksi benih padi lokal, kepada petani juga dilakukan. Semua tindakan ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap saprotan buatan pabrik yang semakin mahal dan cenderung berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan. Selain itu, penjelasan mengenai aplikasi pupuk dan pestisida organik memiliki muatan yang mendorong terbangunnya kembali relasi dengan alam dengan cara mengenali tanda-tanda dan membangun jejaring makanan yang seimbang.
Disela-sela pelatihan itu penyampaian materi non teknis yang bersifat konseptual juga dilakukan. Terdapat pesan subsistensi (yaitu mengutamakan pemenuhan pangan keluarga tani terlebih dahulu) untuk mencegah kelaparan, pengetahuan mengenai ekosistem, nilai-nilai solidaritas, pengorganisasian, kesehatan, gizi, dan pengelolaan lingkungan. Disisipkan pula pesan berupa ironi-ironi yang membangkitkan daya kritis seperti apakah wajar petani mendapat jatah raskin? Atau mengapa petani sayur di Magelang membeli sayur di warung-warung untuk memasak sehari-hari yang berasal dari petani sayur di Yogyakarta?, Yah.. hal-hal semacam itu. Materi ini penting sebagai cara membangkitkan kesadaran bagi mereka untuk bergerak bersama. Kedepan bisa dirintis dan dihidupkan kembali koperasi-koperasi sebagai sistem ekonomi paling adil di desa-desa dengan membawa tren pangan organik adalah hal yang biasa, tidak perlu mahal dan berfisik unggul.
Tidak ada lembaga yang mempersatukan saya dan teman-teman. Kami secara alamiah terikat pada perasaan prihatin yang sama, yang pada suatu momen berada diambang frustasi, untuk bergerak. Kami akan bandel menduplikat model pemberdayaan petani ini di lebih banyak lagi desa-desa. Apabila dilakukan secara partisipatif pemberdayaan ini tidak mahal sehingga tidak ada alasan bagi kami untuk berhenti melakukan pemberdayaan seperti yang sudah kami lakukan di Magelang, Yogyakarta, dan Pekalongan. Pekerjaan ini memang ibarat renik tak berarti di jagat dunia. Namun satu lilin menyala suatu saat dapat menularkan apinya pada banyak lilin lain dalam ruangan gelap sehingga menjadi benderang. Kami sedang lelah berspekulasi mengenai hal-hal yang belum bisa kami kendalikan. Inilah cara kami bertani untuk memelihara keindonesiaan dalam sanubari.
Sebagai penutup, pola pemberdayaan ini memang tidak mendukung target-target produksi pangan yang semakin tinggi. Namun ada yang layak direnungkan bersama mengenai pola konsumsi kita, Apakah selama ini kita telah berhemat mempergunakan bahan pangan? Atau kemana larinya jutaan ton beras dan bahan pangan lainnya disaat puluhan ribu saudara kita hidup dengan perut kelaparan?. Produktivitas yang tinggi bukan satu-satunya cara mengatasi kemelut pangan.
Lembar Biodata
Judul Naskah Esai : Bertani Memelihara Keindonesiaan Kami
Nama Penulis/Peserta : Maula Paramitha Wulandaru
Tempat & Tanggal Lahir : Surabaya, 09 Desember 1989
Nama Perguruan Tinggi : Universitas Gadjah Mada
Nama Fakultas, Jurusan : Pertanian, Sosial Ekonomi Pertanian
Domisili (Alamat Surat) : Jalan Kaliurang KM 4,5 Gang Suroyudo CT III No. 7, Depok, Sleman, DIY, 55281
Alamat Email : maulaparamitha@yahoo.com
Telepon, Ponsel : 081215548496
[1] Ir. Soekarno dalam pidato pendirian IPB.
[2] Upacara adat Bali saat padi mulai hamil.
[3] Sistem Irigasi di Bali.
[4] Turun-temurun.
[5] Pertemuan Kelompok.
[6] Ir. Soekarno dalam Pidato HUT Proklamasi Tahun 1950.
[7] Mencari Ilmu.
[8] Kidung ciptaan Sunan Kalijaga.
Related posts:
Got anything to say? Go ahead and leave a comment!
Artikel
- Menulis adalah Tindakan Komunal
17 May, 2012 - Yang Biasa dan yang Luar Biasa
3 May, 2012 - Konsentrasi Besar
26 April, 2012 - Sebutkan dengan Spesifik
19 April, 2012 - Jangan Katakan, tapi Tunjukan
12 April, 2012
Naskah 2011
- Biaya Masuk SMA Lebih Besar dari Perguruan Tinggi?
25 March, 2012Oleh: Muhammad Nur Aziz Mahasiswa, Fakultas Teknologi Informasi, Jurusan Teknologi Informasi, Universitas Kristen Satya Wacana. Di era globalisasi yang serba modern sekarang ini para pemuda-pemudi bangsa dituntut untuk mempunyai sumber daya manusia ...
- Kertas Kosong yang Penuh Kalimat
25 March, 2012Oleh: Novita Eliana, Mahasiswa Fakultas FISIP, Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Jika Anda sering bepergian dengan menggunakan jasa kereta api. Di dalam gerbong yang sesak, Anda akan disuguhi dengan potret buram realita kehidupan di...
- Manusia Indonesia, Siapakah Itu?
25 March, 2012Oleh: Muhammad Rasyidi, Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Jurusan Aqidah dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Jika ada yang bertanya, apakah anda bangga menjadi bangsa Indonesia? Tentu saya akan jawab “ya saya bangga”....
- Pembangunan Moral Bangsa
24 March, 2012Judul lengkap: Pembangunan Moral Bangsa dengan Menerapkan Metode Pendidikan “Student Oriented”. Oleh: Aini Zahra, Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi, Jurusan Teknik Informatika, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Indonesi...
- Generasi Pembelajar dan Nasib Indonesia Mendatang
24 March, 2012Oleh: Sauqi Futaqi, Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Apakah mungkin perubahan akan terjadi di bumi Indonesia? Pertanyaan sederhana ini ternyata sukar ditemu...


Posting didalam :