Bangun dari Mimpi Gemerlap Tambang
Oleh: Achmad Choirudin, Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Sejak 2006 lalu, ratusan hektar lahan pertanian beberapa desa di Bojonegoro telah beralih fungsi menjadi ladang eksplorasi minyak bumi. Siapa saja yang datang ke Bojonegoro dari arah barat dan utara di malam hari akan disambut gemerlap lampu perusahaan migas Blok Cepu. Tower-tower sumur pengeboran minyak juga tampak gagah menyemburkan api. Ribuan barel minyak bumi diproduksi setiap harinya oleh perusahaan asing Exxon Mobil dari Amerika dan Petro China.
Ketika menyimak tanggapan-tanggapan petinggi negara, baik di pusat maupun di daerah, eksploitasi migas Blok Cepu tentu akan membawa kesejahteraan warga di sekitarnya. Begitu juga ketika kita tanyakan kepada warga, tetangga-tetangga saya berharap bisa mendapatkan langsung untung mega proyek energi ini. Menikmati berkah tambang migas dan tambang-tambang lainnya di seantero tanah air tentu saja menjadi harapan warga negara Indonesia. Konstitusi telah mengamanatkan bahwa semua kekayaan alam dikuasai oleh negara dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Terlebih bagi mereka yang tinggal di sekitar tambang. Merekalah yang menerima dampak negatifnya secara langsung.
Tak hanya berharap bisa mendapatkan keuntungan bagi hasil yang didistribusikan oleh negara, warga sekitar tambang ingin dilibatkan secara langsung dalam industri tambang. Menjadi tenaga kerja di sektor tambang untuk menggantikan pertanian yang lahannya sudah “dibeli” untuk keperluan eksploitasi. Setali tiga uang, diperkejakan di sektor tambang seolah menjadi harapan logis ketika pertanian sudah dirasa tidak bisa memberi kesejahteraan. Dan, menjadi tenaga kerja di sektor tambang tentu dibayangkan bisa meningkatkan kesejahteraan ekonomi yang selama ini masih sekadar menjadi mimpi.
Saya lantas bertanya, bukankah pertambangan adalah industri padat modal, bukan padat karya yang bisa menyerap tenaga kerja dari semua latar belakang pendidikan? Padahal angka partisipasi pendidikan warga Bojonegoro di level menengah masih sangat rendah (50.25 persen pada tahun 2007). Permasalahannya adalah tingkat kesejahteraan ekonomi yang belum mampu mengakses pendidikan menengah, khususnya SMA sederajat.
Berefleksi dari realitas itu, mungkin terbesit di benak kita bahwa keuntungan bagi hasil industri migas—antara perusahaan asing, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah—akan turut mengangkat jaminan pendidikan dari negara. Ah, yang terjadi selama ini, keuntungan industri migas Blok Cepu lebih banyak dibawa ke negara asal perusahaan. Bagaimana bagian untuk daerah? Sudah sedikit, dinikmati pula oleh segelintir elit ekonomi-politik lokal. Saya rasa sudah menjadi wacana umum bagaimana otonomi daerah menciptakan raja-raja kecil. Jadi, jangan membayangkan bahwa jutaan dolar AS hasil eksploitasi Blok Cepu banyak digunakan untuk program-program peningkatan pendidikan. Bukan membangun sekolah dasar-sekolah dasar di sekitar tambang Blok Cepu yang reot, pemerintah daerah Bojonegoro malah membangun sekolah terpadu bertaraf internasional.
Sudah jatuh tertimpa tangga mungkin pepatah yang tidak berlebihan untuk menggambarkan nasib warga sekitar tambang Blok Cepu. Bagaimana tidak, mereka telah diterpa macam-macam polusi kegiatan pertambangan. Lahan mereka sudah diambil alih oleh industri migas. Ketika mereka ingin dilibatkan dalam pekerjaan sektor tambang, pendidikan mereka belum mumpuni. Mayoritas warga sekitar sumur migas masih berpendidikan sekolah dasar. Bisa dihitung, baru generasi sepantaran saya yang sudah banyak mengenyam pendidikan menengah. Itupun sekolah-sekolah di desa yang kualitasnya jauh dari sekolah-sekolah di kota.
Kondisi kehidupan warga desa yang dulunya tenang sebelum datang tangki-tangki minyak kini banyak berubah. Hamparan sawah yang dulunya menjadi ladang kehidupan sosial dan ekonomi kini berganti menjadi ladang dolar para ekspratriat. Saya pun tidak bisa lagi melihat masa kecil saya, ketika anak-anak bisa belajar bersepeda di jalanan berbatu dengan leluasa. Jalanan-jalanan desa kini dipenuhi lalu lintas kendaraan-kendaraan berat. Mobil-mobil mewah para pegawai migas nyaris tak memberi kesempatan anak-anak bermain sepeda lagi. Hampir setiap menit, mobil-mobil Ford melintas beriringan seolah pamer kepada warga yang dilintasi. Tak heran kalau para orang tua bermimpi anak-anak mereka kelak bisa ikut mengendarai.
“Besok kalau sudah lulus kamu bisa bekerja di MCL (Mobil Cepu Limited, anak perusahaan Exxon Mobil), le,” harap Ibu kepada Saya. Maklum, saya adalah anak yang cukup beruntung bisa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dibanding teman-teman sepantaran saya yang selulus SMP dan SMA langsung bekerja sebagai buruh. Buruh bangunan, buruh tani, dan buruh apapun. Setelah perusahaan migas beroperasi, teman-teman di desa pun menaruh harapan tinggi bisa bekerja di sana. “Lumayan jadi-jadi scurity atau buruh kasar,” ujar sebagian besar mereka.
Harapan yang sama juga terbayang pada generasi di bawah saya. Mereka yang kini masih duduk di bangku sekolah dasar dan menengah juga ingin sekali bisa bekerja di pertambangan. Sayangnya, harapan itu tidak diimbangi dengan fasilitas dan kualitas pendidikan yang memadai. Sudah begitu, budaya semangat belajar masih jauh dari perkotaan. Masyarakat agraris sedikit sekali yang mempunyai kesadaran pendidikan. Bukan salah mereka, tapi soal pemerataan di bangsa ini masih saja menjadi komoditas isu ketimpangan yang tak ada habisnya.
Saya merasa miris ketika mendengar cerita tetangga. Ketika mendapat uang hasil penjualan lahan, banyak tetangga saya yang membelanjakannya untuk bagus-bagusan motor dan megah-megahan rumah. Melihat teman-temannya menunggangi motor baru, pemuda desa mana yang tak iri hati. Salah satu pemuda sampai tega menggergaji tiang kayu rumahnya lantaran tidak dibelikan motor baru oleh orang tuanya. Ada juga kaum hawa yang rela menjual tubuhnya secara terselubung demi kesejahteraan ekonomi.
Kondisi ini tentu tak akan terjadi ketika kesadaran pendidikan sudah tertanam sejak dini. Pendidikan yang tak sekadar belajar di sekolah, tapi kedewasaan menyikapi kondisi hidup di lingkungan yang sudah berubah. Kalau tidak kuliah, mungkin saya juga berharap bisa bekerja di pertambangan meskipun sebagai tenaga kasar tanpa berpikir tentang pendidikan.
Mengharapkan peran negara dalam kondisi ini sudah tidak terbayang lagi di benak saya. Kesadaran harus dimulai dari diri sendiri. Beruntung, beberapa warga sekitar sumur migas yang mempunyai kedewasaan berpikir tidak mau diam merasakan kondisi ini. Mereka melakukan gerakan-gerakan sosial untuk mendewasakan para tetangga. Macam-macam yang dilakukan. Tentu saja melawan korporasi multinasional nyaris tidak mungkin dilakukan. Salah satu strategi yang dilakukan para aktivis di kawasan sumur migas Blok Cepu adalah memanfaatkan celah sekecil apapun untuk memberdayakan warga.
Salah satu celah itu adalah sebisa dan semaksimal mungkin mendapatkan dana Corporate Social Responsibility (CSR). Menyadari persoalan mendasar warga mereka adalah pendidikan, para aktivis ini lantas memanfaatkan secuil persen keuntungan perusahaan migas untuk program-program pendidikan. Mereka lantas membentuk lembaga non-pemerintahan (Ornop—Non Government Organization) untuk mengakses dana CSR. Untuk memenangkannya pun para aktivis lokal ini harus bersaing dengan NGO-NGO dari Jakarta, bahkan internasional. Ketika dilaksanakan oleh NGO-NGO nasional dan internasional, banyak program CSR yang tidak sesuai dengan kebutuhan warga. Bukankah penduduk asli lebih mengetahui kebutuhan dan permasalahan warganya? Selain itu, pelaksanaan program-program CSR juga bisa membuka kesempatan bekerja.
Permasalahan mendasar pendidikan di bangsa ini adalah rendahnya minat baca. Minimnya fasilitas dan ketersediaan bahan bacaan menjadi faktor utamanya. Tak rela melihat generasi penerus mereka terbuai mimpi berkah migas, sekelompok pemuda yang tergabung dalam lembaga Society Education Centre (SEC) melakukan gerakan kampanye baca. Dana CSR menjadi sasaran utama mereka untuk mendukung gerakan ini. Dua mobil armada perpustakaan keliling mereka dapatkan. Setiap hari mereka menyambangi sekolah-sekolah dasar dan menengah, balai desa hingga ibu-ibu PKK untuk mengajak membaca.
Kampanye baca yang dilakukan SEC bukan bertujuan memberikan pengetahuan tentang pertambangan migas. Mereka hanya ingin membantu warga untuk membuka wawasan bahwa kehidupan yang layak tidak hanya bisa digantungkan pada sumur minyak di sebelah rumah. Meskipun akses informasi yang bisa dinikmati lewat ponsel sudah bisa didapatkan oleh mayoritas generasi muda di desa, kesadaran literasi mereka masih rendah. Tanpa kesadaran literasi yang memadai, internet hanya akan menenggelamkan mereka ke dalam lautan informasi. Di sini, buku sebagai sumber bacaan utama tetap menjadi barang langka.
Pegiat-pegiat SEC dalam perjalanannya merasa kualahan melayani permintaan layanan. Dua mobil armada perpustakaan keliling dijatah hanya untuk warga Ring-I tambang. Tapi karena informasinya sudah didengar oleh seluruh wilayah Bojonegoro, sekolah-sekolah di pelosok desa lain yang secara geografis jauh dari sumur migas juga ingin diberi kesempatan membaca ratusan buku perpustakaan keliling itu.
Efektivitas kampanye baca perpustakaan keliling ini memang tak mudah diukur. Membuat para siswa sekolah di desa kangen akan kedatangan mobil ini sudah menjadi capaian besar.
Cerita senada dirangkai oleh sekolompok pemuda lain yang menerbitkan tabloid Suarabanyuurip. Banyuurip adalah nama sebuah kawasan Blok Cepu yang digunakan sebagai nama salah satu sumur minyak MCL. Pada awal-awal penerbitannya, media lokal yang meneguhkan dirinya mengawal Blok Cepu ini menyuarakan kritik-kritik lantang terhadap proses eksploitasi minyak di buminya. Dijual kepada warga dengan harga Rp3.500 per eksemplarnya. Alih-alih membeli tabloid, untuk membeli alat tulis anaknya saja para orang tua sudah kualahan. Suarabanyuurip lantas memanfaatkan dana CSR untuk membagi informasi seputar eklploitasi Blok Cepu secara gratis kepada warga di sekitar sumur migas.
Jumlah eksemplar yang dicetak setiap bulannya memang jauh dari jumlah warga sekitar tambang. Hanya 1000 eksemplar. Tapi, kebanyakan eksemplar Suarabanyuurip dibagikan di warung-warung desa. Di ruang publik nyata itu, informasi di setiap halaman Suarabanyuurip bisa lebih meruang dan mem-publik.
Tak mau diperalat perusahaan sebagai ajang pencitraan, Suarabanyuurip tetap melakukan kritik-kritik proporsional terhadap proses-proses eksploitasi migas yang tidak beres. Dari Suarabanyuurip inilah warga sekitar sumur bisa mengetahui seluk-beluk industri migas, dari angka barel minyak sampai aliran dolar yang dihasilkan. Menjadi media alternatif, Suarabanyuurip menyiarkan berita seputar tambang dari sudut pandang pribumi, bukan seperti media-media nasional yang cenderung mengusung perspektif ekonomi makro. Dengan Suarabanyuurip, warga sekitar Blok Cepu bisa menjadi subyek informan yang kian hari kian didominasi oleh pihak-pihak elit.
Di tahun ketiga usianya, sejak tahun lalu Suarabanyuurip menampilkan informasinya di media daring. Mereka ingin suara warga di sekitar Blok Cepu didengar oleh masyarakat dunia. Dengan begitu, tak hanya hitungan barel minyak dan dolar AS yang bisa didengar di seputar industri tambang migas, tapi juga jeritan warga di pinggiran sumur migas yang masih terbelakang. Lebih dari itu, Suarabanyuurip juga bisa menjadi pemantik kesadaran akan pentingnya membaca kondisi diri warga sendiri.
Eksploitasi tambang di mana saja terbukti menimbulkan dampak negatif bagi ekosistem manusia, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Bahkan pada beberapa kasus bisa menimbulkan bencana, lumpur Lapindo misalnya.
Pada tahap eksplorasi dan tahap awal eksploitasi, warga sekitar kawasan sumur minyak Blok Cepu sudah mendapat macam-macam gangguan. Jalanan berbatu yang tidak diperbaiki dengan aspal mengakibatkan polusi debu berkepanjangan akibat kendaraan-kendaraan proyek. Suara bising kendaraan berat siang-malam juga meraung mengganggu ketenangan. Getarannya juga kerap membangunkan tidur nyenyak balita. Belum lagi kebocoran gas H2S yang meracuni warga.
Pertambangan yang mengambil alih lahan pertanian warga jelas akan mengakibatkan kerusakan alam dalam jangka panjang. Umur pertambangan bisa dihitung keberlangsungannya. Setelah kandungan migas terkuras, belum tentu ribuan hektar lahan itu bisa dimanfaatkan lagi untuk pertanian.
Menolak sudah tidak mungkin dilakukan. Kalaupun dilakukan, akan sia-sia belaka. Berharap bisa dipekerjakan juga butuh persiapan kualitas SDM.
Membaca menjadi pilihan paling rasional untuk “melawan” gemerlap tambang. Bukan melawan secara frontal, tapi melalui investasi pendidikan. Perpustakaan keliling yang dilabeli Mobil Layanan Informasi dan Suarabanyuurip berharap, warga di sekitar tambang migas Blok Cepu menjadi lebih cerdas, tidak hanya mau membaca buku di sekolah, tapi juga membaca kondisinya sendiri yang tidak lepas dari penjajahan. Dengan begitu, mental mereka tidak menjadi inlander lagi. Tapi menjadi Indonesia yang sadar membaca. Dengan begitu, berkah migas tidak akan menjadi mimpi indah di siang bolong warga sekitar Blok Cepu. Tanpa kesadaran membaca, warga sekitar Blok Cepu hanya menjadi penonton gemerlap panggung tambang di samping rumahnya.
Related posts:
3 Comments + Add Comment
Got anything to say? Go ahead and leave a comment!
Artikel
- Menulis adalah Tindakan Komunal
17 May, 2012 - Yang Biasa dan yang Luar Biasa
3 May, 2012 - Konsentrasi Besar
26 April, 2012 - Sebutkan dengan Spesifik
19 April, 2012 - Jangan Katakan, tapi Tunjukan
12 April, 2012
Naskah 2011
- Biaya Masuk SMA Lebih Besar dari Perguruan Tinggi?
25 March, 2012Oleh: Muhammad Nur Aziz Mahasiswa, Fakultas Teknologi Informasi, Jurusan Teknologi Informasi, Universitas Kristen Satya Wacana. Di era globalisasi yang serba modern sekarang ini para pemuda-pemudi bangsa dituntut untuk mempunyai sumber daya manusia ...
- Kertas Kosong yang Penuh Kalimat
25 March, 2012Oleh: Novita Eliana, Mahasiswa Fakultas FISIP, Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Jika Anda sering bepergian dengan menggunakan jasa kereta api. Di dalam gerbong yang sesak, Anda akan disuguhi dengan potret buram realita kehidupan di...
- Manusia Indonesia, Siapakah Itu?
25 March, 2012Oleh: Muhammad Rasyidi, Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Jurusan Aqidah dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Jika ada yang bertanya, apakah anda bangga menjadi bangsa Indonesia? Tentu saya akan jawab “ya saya bangga”....
- Pembangunan Moral Bangsa
24 March, 2012Judul lengkap: Pembangunan Moral Bangsa dengan Menerapkan Metode Pendidikan “Student Oriented”. Oleh: Aini Zahra, Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi, Jurusan Teknik Informatika, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Indonesi...
- Generasi Pembelajar dan Nasib Indonesia Mendatang
24 March, 2012Oleh: Sauqi Futaqi, Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Apakah mungkin perubahan akan terjadi di bumi Indonesia? Pertanyaan sederhana ini ternyata sukar ditemu...


Posting didalam :
yang terbayang ketika exploitasi akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. ya bisa dibayangkan seperti Texas, yang kaya minyak juga sejahtera. tapi untuk Bojonegoro mustahil hal itu akan terjadi. Barangkali seperti kota-kota lain di Indonesia yang kaya SDA tapi miskin sejahtera. Apa kabar Langkat dengan minyaknya? Apa kabar Papua dengan emasnya? Kabarnya ya sesuatu banget…
Esai yang bagus. Kalo boleh komentar, sebenernya kalo masalah keuntungan negara sudah mendapat cukup banyak, fyi kalo pajak di bidang migas sebesar 48%, dan akan semakin tinggi tergantung jumlah barrel yang dihasilkan. Selain itu ada kewajiban pula kalau perusahaan asing wajib menjual minyaknya ke negara dengan harga 10% lebih rendah dari harga pasar, selain itu masih dikenai potongan2 ini itu yang cukup banyak jumlahnya. Bisa dibayangkan keuntungan yang didapat oleh pemerintah. Keuntungan tsb lalu dibagi antara kas negara dan kas daerah. Di daerah (provinsi) pun masih dibagi2 lagi dengan daerah lainnya yang tidak mempunyai potensi migas. Jadi semestinya pemerintah Bojonegoro dapat bagian lebih banyak dari daerah lain di jawa timur selaku pemilik lahan migas tsb.
Namun semestinya kita wajib bersyukur, karena di Indonesia menerapkan kontrak bagi hasil yang sangat menguntungkan negara, selain itu ada BP Migas yang mengatur aktivitas2 perusahaan tersebut. Jadi tidak perlu khawatir kalau aktivitas perusaan bakal merugikan warga, karena setiap kegiatan yang akan dilakukan oleh perusahaan harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari BP Migas. Selain itu BP Migas juga mewajibkan tiap2 perusahaan yang beroperasi di Indonesia menyisihkan dana ASR (Abandonment and Site Restoration) yang jumlahnya bisa mencapai ratusan juta dollar. Jadi setelah mereka hengkang dari lahan yang mereka eksploitasi, mereka wajib menghidupkan lahan tersebut. Menghidupkan bukan berarti mengembalikan keadaan seperti semula, namun mengubah lahan tersebut agar bermanfaat bagi masyarakat. CMIIW
terima kasih atas komentarnya.
buat mas anto, suatu kehormatan kalau kita bisa kenal.
paling tidak, essai itu bisa memberikan gambaran realitas lain disamping hitung-hitungan makro anda itu. dana bagi hasil dan ASR, kita lihat, bagaimana hasilnya. kadang saya bertanya, siapa pula yang mengawasinya?